Di tengah pandemi seperti ini, sulit banget untuk mendapatkan akses transportasi untuk kembali ke Prabumulih. Kereta api, pesawat terbang, dan damri belum beroperasi. Hanya ada travel yang berani ambil penumpang. Syaratnya pun lumayan, seluruh penumpang harus punya surat bebas covid-19, penumpang maksimal 4 orang, surat tugas kantor, dan harus dibuatkan surat tugas juga untuk sopir dan mobilnya.
Ada satu travel yang gw hubungi dan dia berani untuk berangkat, mengangkut gw beserta 2 teman kantor. Gw ga tau berapa harganya apabila dalam kondisi normal. Tapi di instagram, dia tulis untuk kondisi saat ini biaya lampung -palembang sebesar 350k.
Ketika gw datangi langsung ke lokasinya, gw ketemu dengan seorang bapak paruh baya. Gw sampaikan maksud untuk mau menggunakan travelnya ke prabumulih. Gw kaget ketika dia buka harga 450k. Kok ga sesuai dengan yang mereka tulis di instagram? Rasanya mereka mau "memainkan" harga karena kondisi sedang begini.
Gw sampaikan kalo di instagram, mereka pasang harga 350k. Kemudian mukanya berubah, kelabakan seperti kebakaran jenggot. "Oh 350 ya mas" Katanya, sambil konfirmasi ke bawahannya kayaknya. Terus gw berusaha membuka negosiasi karena kami ga sampe palembang, cuma sampe Prabumulih. Gw tawar 300k, tapi justru dia "menyerang" secara negosiasi dengan bilang kalo ke Prabumulih justru akan lebih jauh karena keluar tol nya jadi enggak di palembang.
Gw tahan sekitar seminggu, lalu gw hubungi via WA si bapak. Gw bilang kami jadi berangkat tanggal sekian langsung ke Prabumulih 350k ya pak. Sudah di iyakan. Tapi sepertinya dia inget kalo kemarin dia udah masang harga lebih tinggi di negosiasi awal. Tetiba ada chat lagi masuk, tapi kalo ke Prabumulih harganya beda pak, 400k, katanya.
Wah gw diserang lagi ini. Gw sampein kok berubah lagi. Dia menjelaskan abcd. Lalu gw coba counter lagi dgn menawar 375 sampai tempat ya pak. Dia masih ga mau. Oke, biar sama sama enak 380 ya pak jadiin. Dia sudah mengiyakan, deal, selesai.
Ternyata ada yang gw lewatkan ketika negosiasi. Gw lupa mendetilkan request sebagai pengguna jasa. Dua hari jelang berangkat, gw chat lagi si bapak untuk mastiin kalo tgl 1 Juni kita berangkat jam 1 dan bertiga. Si bapak melihat betul bahwa gw membuka sisi pertahanan negosiasi gw dgn kebutuhan yang ga gw sebutkan di awal itu. Dia bilang, "kita berangkat jam 4 sore Pak, sambil nyari 1 penumpang lagi". Gw lupa nulis di atas, sebelumnya dia udah meng-iyakan jam 1 siang ketika gw dateng kesana pertama kali.
Gw juga keberatan karena dia masih mau nambah satu penumpang lagi, sedangkan harga yg diberikan itu udah lebih dari harga normal ke palembang. Lalu gw kirim surat tugas dari kantor yg dia minta, bahwa di surat itu kita cuma bertiga penumpang jadi dia gabisa narik penumpang lagi. Gw berusaha menyerang dia balik supaya jangan semena mena buat aturan. Tapi si bapak masih kekeuh dengan kemauannya berangkat jam 4 dan mencari penumpang 1 lagi.
Akhirnya gw harus mengalah, karena posisi gw udah hampir skak mat. Ditambah gw salah karena terlihat seolah bergantung kepada satu travel ini aja. Gw sampaikan ke si bapak. Baik Pak, kami dari kantor harus sampai sebelum sore. Jadi kita jadikan 400k, tapi hanya diisi 3 penumpang dan jam keberangkatan sesuai dengan yang kami tentukan. Si bapak langsung bales cepet bgt, "ok besok jemput bapak dulu".
Gw jelas kalah dalam negosiasi ini. Pertama, gw mendapatkan harga di atas harga yang dicantumkan di instagram yang notabene Prabumulih dan palembang itu ya kurang lebih sama lah jaraknya. Kedua, si Bapak berhasil membuat gw tersudut dengan negosiasi setengah tidak pastinya sehingga memaksa gw melakukan permintaan tambahan. Ketiga, si Bapak berhasil membuat gw terpaksa *mengikuti* (read : menerima) harga yang sejak awal udah dia rencanakan ke gw sebesar 400k.
Well, gw bakal terus belajar menjadi ahli negosiasi. Kekalahan ini akan gw balas di lain waktu ehehehe peace.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar