Kamis, 04 Juni 2020

Es teh? Boom!

Gw buka instagram, ada produk baru dari pengusaha muda. Nama produknya adalah Es Teh. Bisa-bisanya terfikirkan ide sederhana untuk jual es teh. Mungkin ketika ide itu tercetus, diantara yang denger ada yang terlintas "sekedar es teh". Tapi ternyata idenya brilian.

Nama foundernya Haidhar Wurjanto (cmiiw). Dari sekilas yang gw baca, idenya adalah membuat produk yang sederhana tapi dengan strategi marketing 4.0. Dan, boom. Gw salut bgt. Ingin mencontoh. Dia berhasil membuat "Es teh" yang biasanya kalo kita pesen makanan, harga es teh paling murah kini bisa setara dengan kopi kekinian.

Dia bisa menemukan Pain point. Peluang itu bisa dilihat dengan cara pandangnya. Lo keren bgt, bro. (Walaupun kaga kenal) wkwkwk

Sabtu, 30 Mei 2020

Negosiasi pecundang

Tulisan ini gw buat ketika masa pandemi corona di Indonesia sedang parah-parahnya. Walaupun belum menunjukkan tren penurunan yang signifikan, pemerintah sudah mulai melonggarkan kebijakan dengan perlahan membuka keran perekonomian. Begitu juga dengan gw yang sudah harus kembali ke daerah kerja pada tanggal 2 Juni besok. 

Di tengah pandemi seperti ini, sulit banget untuk mendapatkan akses transportasi untuk kembali ke Prabumulih. Kereta api, pesawat terbang, dan damri belum beroperasi. Hanya ada travel yang berani ambil penumpang. Syaratnya pun lumayan, seluruh penumpang harus punya surat bebas covid-19, penumpang maksimal 4 orang, surat tugas kantor, dan harus dibuatkan surat tugas juga untuk sopir dan mobilnya. 

Ada satu travel yang gw hubungi dan dia berani untuk berangkat, mengangkut gw beserta 2 teman kantor. Gw ga tau berapa harganya apabila dalam kondisi normal. Tapi di instagram, dia tulis untuk kondisi saat ini biaya lampung -palembang sebesar 350k.

Ketika gw datangi langsung ke lokasinya, gw ketemu dengan seorang bapak paruh baya. Gw sampaikan maksud untuk mau menggunakan travelnya ke prabumulih. Gw kaget ketika dia buka harga 450k. Kok ga sesuai dengan yang mereka tulis di instagram? Rasanya mereka mau "memainkan" harga karena kondisi sedang begini. 

Gw sampaikan kalo di instagram, mereka pasang harga 350k. Kemudian mukanya berubah, kelabakan seperti kebakaran jenggot. "Oh 350 ya mas" Katanya, sambil konfirmasi ke bawahannya kayaknya. Terus gw berusaha membuka negosiasi karena kami ga sampe palembang, cuma sampe Prabumulih. Gw tawar 300k, tapi justru dia "menyerang" secara negosiasi dengan bilang kalo ke Prabumulih justru akan lebih jauh karena keluar tol nya jadi enggak di palembang. 

Gw tahan sekitar seminggu, lalu gw hubungi via WA si bapak. Gw bilang kami jadi berangkat tanggal sekian langsung ke Prabumulih 350k ya pak. Sudah di iyakan. Tapi sepertinya dia inget kalo kemarin dia udah masang harga lebih tinggi di negosiasi awal. Tetiba ada chat lagi masuk, tapi kalo ke Prabumulih harganya beda pak, 400k, katanya. 

Wah gw diserang lagi ini. Gw sampein kok berubah lagi. Dia menjelaskan abcd. Lalu gw coba counter lagi dgn menawar 375 sampai tempat ya pak. Dia masih ga mau. Oke, biar sama sama enak 380 ya pak jadiin. Dia sudah mengiyakan, deal, selesai. 

Ternyata ada yang gw lewatkan ketika negosiasi. Gw lupa mendetilkan request sebagai pengguna jasa. Dua hari jelang berangkat, gw chat lagi si bapak untuk mastiin kalo tgl 1 Juni kita berangkat jam 1 dan bertiga. Si bapak melihat betul bahwa gw membuka sisi pertahanan negosiasi gw dgn kebutuhan yang ga gw sebutkan di awal itu. Dia bilang, "kita berangkat jam 4 sore Pak, sambil nyari 1 penumpang lagi". Gw lupa nulis di atas, sebelumnya dia udah meng-iyakan jam 1 siang ketika gw dateng kesana pertama kali. 

Gw juga keberatan karena dia masih mau nambah satu penumpang lagi, sedangkan harga yg diberikan itu udah lebih dari harga normal ke palembang. Lalu gw kirim surat tugas dari kantor yg dia minta, bahwa di surat itu kita cuma bertiga penumpang jadi dia gabisa narik penumpang lagi. Gw berusaha menyerang dia balik supaya jangan semena mena buat aturan. Tapi si bapak masih kekeuh dengan kemauannya berangkat jam 4 dan mencari penumpang 1 lagi. 

Akhirnya gw harus mengalah, karena posisi gw udah hampir skak mat. Ditambah gw salah karena terlihat seolah bergantung kepada satu travel ini aja. Gw sampaikan ke si bapak. Baik Pak, kami dari kantor harus sampai sebelum sore. Jadi kita jadikan 400k, tapi hanya diisi 3 penumpang dan jam keberangkatan sesuai dengan yang kami tentukan. Si bapak langsung bales cepet bgt, "ok besok jemput bapak dulu". 

Gw jelas kalah dalam negosiasi ini. Pertama, gw mendapatkan harga di atas harga yang dicantumkan di instagram yang notabene Prabumulih dan palembang itu ya kurang lebih sama lah jaraknya. Kedua, si Bapak berhasil membuat gw tersudut dengan negosiasi setengah tidak pastinya sehingga memaksa gw melakukan permintaan tambahan. Ketiga, si Bapak berhasil membuat gw terpaksa *mengikuti* (read : menerima) harga yang sejak awal udah dia rencanakan ke gw sebesar 400k. 

Well, gw bakal terus belajar menjadi ahli negosiasi. Kekalahan ini akan gw balas di lain waktu ehehehe peace. 


Jumat, 21 Juni 2019

Catatan Kecil

Bila ingin hidup damai di dunia
Bahagialah dengan apa yang kau punya
Walau hatimu merasa semua belum sempurna
Sebenarnya kita sudah cukup semuanya

Bila dunia membuatmu kecewa
Karena semua cita-citamu tertunda
Percayalah segalanya telah diatur semesta
Agar kita mendapatkan yang terindah

Impianmu terbangkanlah tinggi
Tapi selalu pijakan kaki di bumi
Senyumlah kembali bahagiakan hari ini
Buatlah hatimu bersinar lagi


Bila ingin lebih damai di dunia
Berbagilah bahagia yang telah kau punya
Kini hatimu terasa semua lebih sempurna
Karena kau hidup dengan seutuhnya

Impianmu terbangkanlah tinggi
Tapi selalu pijakan kaki di bumi
Senyumlah kembali bahagiakan hari ini
Buatlah hatimu bersinar lagi

Bila ingin lebih damai di dunia
Berbagilah bahagia yang telah kau punya
Percayalah segalanya telah diatur semesta
Agar kita mendapatkan yang terindah

Kini hatimu terasa semua lebih sempurna
Karena kau hidup dengan seutuhnya

Oleh : Adera Ega

Senin, 26 November 2018

Gunung Prau, 2565 mdpl

Setelah menyelesaikan masa perkuliahan yang terasa amat panjang, bulan Oktober kemarin gw akhirnya wisuda (yeay)🙋. Gw resmi lulus menjadi alumni PKN STAN 4/10/2018 (yudisium). Kemudian gw mikir mau mengisi kegiatan apa sehabis lulus, karena ada rentang sekitar 2 bulan waktu free yang gw milikiMencoba buka-buka grup whatsapp, line, kali-kali ada yang ngajak berlibur wkwk. Lalu gw inget kalo punya rencana buat mendaki gunung bareng temen-temen SMA. Sebenernya rencana itu udah dibuat dari tahun 2016, tapi dengan segala kepancean dan kewacanaannya alhamdulillah masih tertunda 🤣 

Gw coba untuk buka omongan di grup kecil yang isinya adalah beberapa temen kelas XII. Jadi grup kita bernama 'Road to Top of Java' wkwkwk bukan main namanya *skip. Setelah diskusi untuk menyesuaikan jadwal masing-masing, akhirnya kita sepakat mau mendaki Gunung Prau tanggal 3-4 November 2018. Yesss (dalem hati), akhirnya gw akan mendaki gunung yang udah direncanakan dari lama ini. Oiya, kita bakal mendaki ber-4 doang yaitu gw, Aldy, Gio, dan Una. Udah sempet ngajak temen-temen yang lain juga, tapi memang posisinya banyak yang lagi ngurusin skripsi. Okelah, fix kita ber-empat bakal naik, gaskeuun!

Tanggal 1 November gw berangkat ke Yogyakarta sebagai titik kumpul kita. Gw berangkat dari stasiun Pasar Senen sekitar jam 11.00 siang. Estimasi tiba di stasiun Lempuyangan jam setengah 8 malem. Pokoknya semua persiapan terbaik udah ada di dalem tas carrier. Belum ada 2 jam di kereta, Gio ngechat di grup ngasih tau kalo dia abis kehilangan dompet beserta isi-isinya. Terus dia minta maaf kalo sampe jumat dompetnya ga ketemu, dia terpaksa skip. Waa.. gw kecewa dikit sih pas itu. Tapi balik lagi, dia juga pasti ga mau dompetnya hilang. Jadi yauda lah, gw mulai menyusun plan B bakal ngapain aja di Yogya kalo misalkan Aldy dan Una juga ngebatalin. Masalahnya gw udah di kereta bor, gabisa puter balik hmm.

Sampe di Lempuyangan, gw dijemput Andhu (Sikekek panggilan akrabnya). Doi ini adalah sahabat gw dari kelas X dan memang punya rumah disana. So, gw mendapat tumpangan gratis selama di Yogya ;). Sepanjang jalan kerumahnya, gw sedikit bernostalgia dengan kota Yogyakarta yang terakhir kali gw datangi 3 tahun lalu ini. Langsung terasa suasana nyaman nya, ga ada beda sejak gw cabut dari sini... krik krik... Oke flashback nya cukup wkwk. Gw juga udah ngajakin Andhu untuk ikut naik ke Prau, tapi dia bilang ga bisa karena akan ada kegiatan di hari kita turun gunung. 

Keesokan harinya, si Gio ngabarin nih kalo dompetnya belum ketemu. Yah kecewa gw hmm... Tapi kabar baiknya, dia memutuskan untuk tetap berangkat sesuai rencana! Dia juga bilang ada satu temen nya yang mau ikut, cewe, jadi si Una ada temen ntar :p. Eh iya, Gio dan kawannya bakal berangkat dari Semarang (doi kuliah di Undip). Jadi nanti kita akan langsung ketemuan di Wonosobo. Oke berarti rencana kita udah matang seperti semula. 

Selagi gw mempersiapkan apa-apa yang mau dibawa besok, si Andhu nanyain kita ini perginya sabtu-minggu atau minggu-senin. Kayaknya dia salah ngira kalo kita perginya minggu-senin. Abis gw kasih tau kalo kita berangkat besok sabtu, dia jadi mau join. Ternyata dia ga bisa nya itu hari senin wkwk sikekek. Oke, tim kita sekarang komplit ber-enam. Rencana besok pagi sebelum berangkat, gw, Andhu, dan Una bakal ngurus segala perlengkapan dan konsumsi. 

Sabtu pagi, kita mau sewa perlengkapan di Anak Rimba tadinya. Tapi persyaratan buat sewa agak ribet. Setelah coba kesana kemari, dapet juga tempat penyewaan yang lengkap. Sip, peralatan amaann. Selanjutnya kita pergi ke Mirota (anak Yogya pasti tau). Yup, itu kayak swalayan yang letaknya di sekitar UGM. Lumayan banyak bahan konsumsi yang kita beli, terutama air mineral walaupun bikin berat. Oiya, Aldy ga bisa nemenin kita belanja pagi ini karena dia masih harus mengurus persiapan wisudanya di UGM. Karena itu juga, rencana yang semula berangkat pagi diundur jadi siang setelah sholat dzuhur. 

Jam 12.00 tepat, gw dan Andhu udah ready. Meeting point kita adalah rumahnya Andhu. Sekitar setengah 1 siang, Una juga udah sampe dengan tas legend nya wkwk ._.v . Tinggal Aldy, dia ngabarin barusan otw. Lima belas menit ditunggu, oke mungkin macet. Tiga puluh menit ditunggu, oke mungkin salah baca maps. Memasuki 45 menit, warga mulai bertanya-tanya sudah dimana posisi baginda wkwkwk. Satu jam kemudian (setengah 2) akhirnya Aldy tiba *alhamdulillah 🤣

Setelah itu, kita berangkat menuju Wonosobo. Kami Tim Yogya berangkat jam setengah 2, sementara Tim Semarang udah berangkat jam 1 tadi. Selama di mobil, kita ga ada henti-hentinya ketawaaaa terooss. Karena udah lama ga ketemu juga kali ya, jadi banyak banget yang dibahas dalam obrolan. Dari ngebahas Umar (salah satu temen yang ga jadi ikut) yang sekarang rajin nge-cover lagu tapi layarnya hitam. *Kita ga yakin Mar kalo itu suara lo, tolong tunjukkan ekspresi ketika meng-cover juga* wkwkwkk. Sampe nostalgia gw dan Andhu yang nge-band pas perpisahan SMA tapi lagunya di stop pas lagi reff gara-gara dibilang bikin berisik sama wakil kepala sekolah wkwkwk jahat bgt ibu itu :'D 

Perjalanan 4 jam dengan ditambah beberapa kali sedikit nyasar bener-bener ga kerasa. Langit udah gelep aja karena udah mau magrib. Akhirnya kita bertemu dengan Tim Semarang di Masjid Agung Wonosobo. Sesaat setelah ketemu, pas banget hujan turun. Deres. Kita memutuskan untuk solat dan neduh di masjid sampai hujan bener-bener reda. Soalnya Gio dan Iren kan naik motor, entar belum ngedaki udah basah duluan huhu. Oiya, nama temen kita satu lagi adalah Iren. Halo Iren!

Sembari kita nunggu ujan reda, Gio dan Iren cerita tentang perjalanan mereka tadi. Ternyata mereka tadi sempet mengalami sedikit kecelakaan. Tapi syukurlah mereka ga kenapa-kenapa. Dan gw salut banget mereka masih tetap semangat merealisasikan rencana ini. Kalian berdua luar biasa Gaes!!!

Sekitar setengah 7, ujan udah mereda. Tim Yogya dan Tim Semarang udah siap 86 buat lanjoott. Perjalanan menuju basecamp masih sekitar satu jam. Jalanannya bagus, tapi berliku-liku gitu. Ya namanya juga pegunungan kan. Waktu kita lagi di jalan, kabutnya tebel banget. Beberapa kali jarak pandangnya paling cuma sekitar 5-7 meter. Itu kabut udah kayak asep keliatannya. Sekedar informasi, beberapa waktu lalu kawasan Dieng dan sekitarnya sempet mencapai suhu minus. Yaa bisa dibayangkan lah gimana menggigilnya Gio dan Iren pas di motor wkwkwk.

Sampai di tempat terakhir untuk kendaraan, kita mulai nurunin barang masing-masing. Kita start dari Patak Banteng kalo ga salah. Melakukan pengecekan final kali-kali ada barang yang belum masuk tas. Ga lupa juga perlengkapan kita sendiri. Kupluk, syal, jaket, sarung tangan, senter, celana panjang, sendal/sepatu. Udah ready2 bgt lah setelannya. Akhirnya kita berangkat menuju basecamp untuk melakukan registrasi dan berdoa sebelum mendaki. 

"Oke temen-temen, sebelum kita melakukan pendakian ini, lebih baik kalo kita berdoa. Semoga diberi kelancaran, ga kekurangan suatu apapun. Kalo capek, ngomong, biar kita istirahat. Jangan diem aja karena nanti bakal nyusahin yang lain. Kalo ada ngeliat atau ngerasa sesuatu, ga usah panik tetep lanjutin aja. Berdoa mulai.......". Kurang lebih begitu doa bersama kita yang dipimpin Andhu sesaat sebelum berangkat. Abis itu ga lupa kita ambil foto sekali dan berangkat. :D

Sesaat setelah berdoa. Bisa diliat, Aldy cuma pake kaos wkwk
Masih awal, masih kuat, masih bisa bercanda dan ketawa sambil jalan. Trek pertama yang dihadapin setelah ngelewatin perkampungan terakhir yaitu tangga yang tinggi dan sangat banyak anak tangga nya. Itu lumayan bikin capek (padahal baru jalan dikit) wkwkwk. Lima belas anak tangga dilalui, kita istirahat. Naik 15-20 anak tangga, istirahat lagi.. Engap cuy seriusan :p. Tapi untungnya cuaca malem ini bagus, ga ujan dan anginnya ga terlalu kenceng. Itu baru sekitar jam 9-an jadi kita masih bisa denger suara-suara mesjid masih ada yang ngaji. Parkiran kendaraan juga masih keliatan walaupun udah mulai terlihat kecil karena posisi kita udah mulai tinggi. 

Langkah demi langkah terus dipijak. Perjalanan yang semula berjejer rapih sambil banyak bercanda, sekarang udah berbentuk barisan dan ga banyak obrolan. Mulai pada ngos-ngosan. Di barisan paling depan ada Andhu sebagai guide. Dibelakangnya beruntun ada Gio, Iren, Una, gw, dan Aldy. Barisan inilah yang jadi patokan kita setiap jalan. Supaya kalo ada yang ketinggalan bisa segera notice. 

Pos pertama udah kita lewatin, banyak rekan-rekan pendaki lain yang beristirahat disana. Seperti udah jadi kewajiban ya, ketika sesama pendaki saling ketemu itu untuk saling tegur sapa atau sekedar memberi semangat. "Ayo mas/mbak", "mari mas", ataupun "semangat mas, puncak udah deket". Kerasa banget suasana keramahan meskipun cuma sekedar tegur sapa. Hal-hal kecil yang jarang banget gw rasakan terutama kalo di ibukota. Semakin bersyukur karena mendakinya pun bareng temen-temen baik yang memang udah paham satu sama lain.  

Ketika kita sedang berhenti untuk istirahat, rombongan kami didahului oleh serombongan yang sepertinya satu keluarga. Jadi mereka ayah dan ibu ngajak anaknya yang gw liat masih kecil. Mungkin sekitar 4 atau 5 tahun umurnya. Sambil merhatiin itu bocah yang semangat banget, gw seraya bergumam tentang hebatnya ini anak masih kecil gini ga keliatan raut capek samsek. Dia semangat banget dengan wajah cerianya sambil dipegang tangannya oleh kedua orang tuanya. Mayan syahdu wkwkwk

Yup, perjalanan dilanjutkan. Sekarang kita berada di trek yg masih tergolong normal. Di sebelah kiri, perkampungan penduduk udah makin kecil karena kita makin tinggi posisinya. Suara-suara dari bawah pun udah semakin kecil terdengar. Di sebelah kanan gelap, banget. Tapi sepertinya itu perkebunan. Disebelah kiri dan kanan trek disediakan tali yang kuat untuk kita pegangan. Jadi selain kakinya terus jalan, tangan kita juga aktif pegangan ke tali. Gw rasa itu lebih menguras tenaga. Beberapa kali Iren, Gio, dan gw minta istirahat sejenak hingga sampai lah kita di suatu pos entah pos berapa ga merhatiin lagi. Di pos itu ada orang yang jualan. Dia jual semangka. Itu semangka segernya luar biasaa. Karena suhu di tempat itu udah dingin banget, semangkanya jadi kayak abis dari freezer. Ga inget lagi waktu itu abis berapa, yang pasti banyak. Kita seperti orang kehausan yang berebut air di padang gurun wkwkwk. Harus diakui, semangka di malam itu sangat nikmat 👍

Perjalanan udah memasuki setengah tujuan, beberapa kali ada rintik-rintik gerimis yang turun. Tapi sepertinya itu bukan bakal hujan. Kayaknya itu adalah rintik-rintik air dari kabut yang mulai turun. Kadang gw excited sendiri karena kalo ngomong akan ngeluarin asep wkwkwk bocah. Sebenernya cuaca udah semakin dingin, ditandai dengan kabut itu. Tapi karena kaki yang terus melangkah, dinginnya itu ga kerasa. Gw malah lebih ngerasa gerah dengan jaket tebel, syal, dan lain-lain ini. Bahkan Aldy sejak awal perjalanan dari basecamp cuma pake kaos doang. Ga pake jaket, syal, apalagi sarung tangan. Kuwad 𛱠

Oiya, semakin tinggi posisi kita, medan yang dilalui juga makin terjal dan licin. Sepertinya di atas bekas hujan, jadi kita semakin extra hati-hati. Udah hati-hati pun masih aja pada kepleset. Gw, Aldy, Una, Iren jadi korban kelicinan trek tanah yang curam ini. Kotor-kotoran tengah malem is real. Sempet ada insiden juga ketika sepatunya Una rusak. Sol nya lepas dari pijakan. Rombongan pada bingung harus gimana, kita cuma ada cadangan sendal jepit punya Andhu yang tadi sempet dipinjem Iren. Tapi sendal jepit justru bakal jadi masalah karena rawan kepleset. Kemudian ide brilian Gio muncul.. Gio menyarankan sol sepatunya diiket, pake akar tanaman wkwkwk. Seketika suasana pecah ngekekskekek ketika dia disuruh nyontohin ngiket pake akar tanaman, tapi doi kebingungan harus nyari akar dimana 🤣. Coba lo pada bayangin, gimana ngiket sepatu pake akar wkwkwk bisa sih. Piss, Giiok ._.v Tapi seriusan, ide Gio tadi jadi inspirasi buat kita menemukan solusi untuk ngiket pake tali rafia. Untungnya ada tali rafia buat ngiket lipetan tenda. Siyapp, masalah terselesaikan.

Berkali-kali Gio bilang, kita udah mau sampe kalo udah ketemu anak tangga. Dan akhirnya hampir 3,5 jam pendakian kami mulai menemukan titik terang. Kita udah sampe di anak tangga yang dimaksud. Tapi ternyata anak tangganya tinggi banget cuy. Walaupun ga se-licin medan sebelumnya, tapi dengan kondisi yang udah cape dan ingin segera istirahat, trek tangga terakhir ini terasa amat berat. Hanya bisa saling memotivasi satu sama lain bahwa tujuan kita udah semakin deket. Hingga akhirnya Andhu dan Gio yang berada paling depan dan meninggalkan kami lumayan jauh berteriak "udah sampeeee". Wah, itu asli legaa banget. Mencoba memaksimalkan sisa-sisa tenaga demi segera istirahat, gw, Aldy, Iren, Una menyegerakan langkah sampai ke atas. Akhirnya kita sampai ke tempat terakhir, puncak Prau tepat jam 12 malem. 

Ketika udah sampe di atas capeknya ilang sih kalo gw wkwk tapi entah yang lain. Selanjutnya kita ngediriin tenda. Mungkin karena udah lelah, entah kenapa ini kita para lelaki ngediriin tenda hampir sejam ga kelar-kelar. Kayak kebingungan sendiri. Andhu dan Gio bilang bahwa tendanya beda dari yang biasa digunakan walaupun dalem hati gw bilang (alah alesan aja lo pada) wqwqqwqw. Kemudian kita minta bantuan pendaki lain, syukurnya abis itu tenda kita berdiri. Di posisi ini juga tanpa disadari, si Iren ternyata udah tidur di tanah sejak kita pertama bangun tenda tadi. Doi tidur dengan posisi setengah duduk dong. Itu padahal suhu nya dingin pake bgttt. Bisa-bisanya dia tidur disitu ga kedinginan 🤣 

Kelar bangun tenda, kami yang belum makan sejak siang ini pada keroncongan. Ga ada pilihan lain, waktunya kita makan. Andhu dan Una tukang masak mie nya. Sedangkan gw, Aldy, Gio, dan Iren ngebacot aja biar anget ga kedinginan. Ga terlalu lama, santapan kita malem ini mateng. Dengan bermodalkan sendok bebek, kita langsung makan di kualinya. Waaa itu enak banget rasanya asli. Makanan apapun rasanya nikmat bgt disitu. Selamat makan!

Setelah perut terisi dan tenda selesai dibangun, tibalah kantuk yang melanda. Waktunya untuk tidur karena kita mau bangun pagi-pagi banget buat melihat sunrise. Katanya sih sunrise disini aesthetic bgt eaaa. Oiya, saat itu udah sekitar pukul 2 dini hari. 

Ditengah lelapnya tidur, gw ngedenger orang-orang disekitar mulai ramai. Mereka terdengar kayak lagi nonton bola gw rasa, "huwaaa" kurang lebih seperti itu berulang-ulang. Gw juga masih setengah ngantuk, tapi yang ada di fikiran gw mereka berisik karena mulai melihat tanda-tanda sang fajar menyapa. Tapi gw dan yang lain masih ngantuk banget jadi kita ga ada yang bangun. Entah yang lain ga bangun, atau males bangun. Hingga sekitar jam 5 kurang, gw ngerasa ini saatnya untuk bangun. Sia-sia aja gw udah sampe sini tapi cuma tidur kan.

Ternyata di luar udah ada Andhu yang sedang menatap cahaya merah di kejauhan dengan serius. Ga lama dari situ, Aldy, Iren, dan Una juga bangun. Cuma si Gio yang masih tidur. Doi memutuskan untuk ga keluar dan lanjut tidur. Okelah, Yok (Gio).

Akhirnya kita ber-lima terus terpana menyaksikan sang fajar perlahan menunjukan pesonanya. Sang fajar terbit dari sebelah kiri gunung Sumbing dan Sindoro. Mereka terlihat indah berdampingan kala menyapa pagi kami. Membuat kami semakin merasa bersyukur dapat menjadi saksi dari ciptaan Yang Kuasa ini..

Sunrise kala itu

Para pemasak nih
Matahari pun telah terbit dengan sempurna, banyak foto dengan berbagai pose telah diabadikan, azkkk. Waktunya sarapan pagi. Si Gio akhirnya bangun mendengar berita sarapan wkwk. Menu kita pagi ini adalah roti bakar, kentang goreng, dan air putih. Ada sedikit insiden ketika kita mau masak sarapan. Jadi diantara kami ber-enam, cuma Gio yang bisa ngidupin kompor gas portable nya. Mungkin karena bekas dipakai semalem dan belum dibersihin, atau entah karena apa ada satu kompor yang susah untuk idup. Tangan ajaib Gio turun tangan disini, "ctak, ctak, ctak"... kompor akhirnya idup. Lalu doi bermaksud membesarkan api kompor (sepertinya), tapi kebesaran jadi kayak api obor. Terus hampir kebakaran nyamber tenda wqwqwq. Gw sama Aldy cuma melongo ngeliat kebakaran asbab Gio ngegedein api sambil teriak "Yok itu kebakar Yok tenda Yok". Gio nya juga tercengang kebingungan yakin gw. Dengan bermodal yakin, doi berhasil ngecilin api tersebut. Hampir kita ngebakar satu gunung kayak di NTT :D wkwkw. Tapi diluar itu, sarapan pagi ini ga kalah nikmat dari indomie kita semalem. Semuanya berbaur dengan candaan-candaan yang terjadi selama perjalanan tadi malam. Sungguh dua hari yang luar biasa!

The Troops
Perut yang telah terisi, serta matahari yang semakin menghangat menandakan waktunya kami packing untuk turun. Pendakian Gunung Prau kali ini akhirnya tercapai. Rencana yang telah disusun dua tahun lamanya, pada akhirnya terbayar sudah. Perjalanan kali ini memberikan kesan tersendiri, menjadi pengingat kepada gw pribadi untuk selalu bersyukur memperoleh kesempatan berpetualang dengan orang yang tepat, di tempat yang tepat, dan di waktu yang tepat pula. Sekian~








Minggu, 16 September 2018

Menunggu

Ini ceritanya lagi gabut. Jadi gw mau cerita aja. Tanggal 5 September kemarin gw udah menghadapi Seleksi Kompetensi Dasar (SKD) di kampus. Tes itu sebagai syarat untuk menjadi CPNS ceritanya. Syukur sih bisa lulus satu kali tes karena lumayan banyak juga temen-temen di kampus yang harus mengulang ke tahap ke-dua.

Tahap selanjutnya kita (calon alumni) wajib nentuin di instansi mana mau kerja nantinya. Sempet beredar isu kalo jurusan pajak bakal memilih instansi di luar Kemenkeu. Bahkan info itu keluar H-1 pemilihan instansi. Ya... sejujurnya gw kaget sih. Soalnya selama ini kita diarahkan, diyakinkan, bakalan masuk ke Kemekeu. Tapi nyatanya ketika portal udah bisa dibuka, pilihannya tetap kemenkeu (yesh)!

Detik ini, link pengisian survey masih dibuka. Kita wajib nge-rank 3 instansi diantaranya DJP, BKF, DJPK, Setjen. Gw udah nentuin sih dari kemarin instansi apa nya. Setelah diskusi dengan banyak orang dari berbagai kalangan, okelah bismillah D** (DWI yhaa) . Jadi saat ini gw banyak gabutnnya. Karena sedang dalam proses menunggu pengumuman demi pengumuman.

Terus di saat gabut kaya gini sih gw baru ngerasa, berkegiatan itu lebih enak daripada ga ada kegiatan. Dalam hal ini  maksud gw adalah kuliah/organisasi/kegiatan apapun yg positif. Hmm, sebenernya mungkin banyak orang yang pengen cepet kelar kuliah itu bukan karena ke kampus nya ya. Tapi mager belajar di kelasnya wkwk  ya sama gw juga begitu.

Sekarang kegiatan yang sering gw lakukan adalah menulis di blog begini. Terkadang jelas, banyak ga jelasnya kaya sekarang wkwk. Terkadang gw publish, banyak enggaknya juga hahaha. Gw cuma seneng aja, nulis kaya begini kayak bisa cerita walaupun ga ada yg dengerin.

Jadi itulah cerita kegabutan malem ini, sembari menunggu berbagai pengumuman kedepan 𝨿

Jumat, 08 Juni 2018

Ingin menjadi mahasiswa

Udah lumayan lama pengen menulis dan berbagi pengalaman ini. Akhirnya bisa ikut berbagi cerita di blog yang sangat baru dan awam ini :D

Gw berasal dari SMA Negeri 9 Bandar Lampung, salah satu sekolah terbaik di Lampung. Lulus tahun 2014. Waktu kelas 3 semester 2, di sekolah lagi rame-ramenya para siswa nentuin mau kuliah dimana. Ada yang pengen masuk FK UI, FTTM ITB, FT UGM, dan kampus-kampus favorit lainnya. Saat itu gw juga punya cita-cita pengen banget masuk FK Unsri (Palembang). Masuk kedokteran itu rasanya jadi goals bagi  kebanyakan anak IPA dan alasan pilih Unsri karena ada kakak juga kuliah disana, jadi impiannya bisa kuliah bareng dan kalo mudik pun bareng. Ketika SNMPTN jalur undangan udah dibuka, gw langsung nentuin FK Unsri di pilihan pertama. Pilihan kedua ketika itu adalah Teknik Pertambangan di kampus yang sama. Walaupun tiap siswa bisa milih 3 pilihan, gw memberanikan diri untuk cuma memilih dua. Alasan saat itu sederhana, gw ga mau masuk ke kampus yang sekedar 'cari aman'. Karena gw fikir kalo nanti emang keterima di pilihan yang ga sesuai hati, pasti ngejalanin kuliahnya selalu dibawah bayang-bayang kampus impian. "kok gua ga masuk FK ya?", "ah kok gua disini sih", nah gw ga mau  kalimat-kalimat kaya gini keluar nantinya.

Setelah masa-masa pendaftaran SNMPTN selesai, rasanya udah nyantai banget. Ekspektasinya adalah nanti ketika pengumuman tulisannya warna hijau diawali kata "Selamat". Entah kenapa gw yakin kalo nanti di  pengumuman akan lulus di pilihan pertama. Jadi sisa waktu sekitar 3 bulan ga ada persiapan berarti yang gw kerjakan layaknya temen-temen lain yang mempersiapkan diri untuk SBMPTN.

 27 Mei 2014, gw bangun pagi dan ngerasa sangat deg-degan. Hari ini adalah hari pengumuman SNMPTN. Jadwal pengumuman kalo ga salah sekitar jam 5 sore. Seharian gw menghabiskan waktu dengan kegiatan yang ga produktif. Nonton, tiduran, cek HP, nonton lagi, berulang-ulang. Sambil meminta doa orang tua  dan keluarga supaya hari ini dapet berita baik. Jam setengah 4 sore, grup kelas rame ngabarin kalo  pengumuman udah bisa di akses di beberapa website. Detak jantung makin ga menentu, mulai memikirkan nanti harus berekspresi seperti apa kalo keterima. Hahaha ga bener nih fikiran. Lalu gw langsung coba akses dan ternyata pengumuman memang udah ada. Diminta untuk masukin nomor peserta dan input captcha yang ada, lalu enter... Ternyata mimpi buruk baru aja dimulai. gw gagal  lulus SNMPTN. Terdiam sejenak dengan berbagai fikiran di kepala, mencoba menguatkan diri  bahwa everything's gonna be okay. Oke gw bisa terima bahwa gw gagal, masih ada SBMPTN di depan.

Pengumuman dimulai

Pengumuman itu seolah menjadi cambuk. Gw mulai serius belajar di sisa kurang dari sebulan menuju tes-tes selanjutnya. Walaupun gw tau, mustahil untuk mempersiapkan diri  dalam sebulan toh masih banyak teman-teman yang gagal lainnya dengan persiapan yang lebih minim. Singkat cerita hari H SBMPTN tiba, gw mengerjakan seadanya dan semampunya. Meski dengan ambisi yang masih sama yaitu ingin masuk FK, gw mulai merasa bahwa dengan persiapan seperti itu sangat tidak layak untuk lulus SBMPTN apalagi FK. Ternyata SBMPTN juga belum rejeki gw. Dari 3 pilihan, satu pun ga ada yang lulus. "okelah" gw membatin. Sedih, menangis, berdiam diri seperti orang stres juga sempet gw rasakan untuk beberapa saat.

Pengumuman SBMPTN 2014


Harapan buat masuk FK mulai kecil. Melalui saran orang tua, gw mencoba untuk ikut tes lain seperti sekolah kedinasan. USM STAN adalah yang pertama. Kata sebagian orang, tes masuk STAN gampang karena hanya TPA & TBI (tes bahasa inggris). Namun gampang itu ga ada artinya ketika kita ga punya persiapan. Gw ga lulus USM STAN. Sempet juga mencoba daftar Akpol karena mendapat motivasi dari papa yang juga seorang polisi. Ternyata gw gugur sebelum sempat mencapai tahap  yang lebih jauh. Ga lama dari situ gw juga coba daftar STIS. gw merasa seleksi STIS jauh lebih susah daripada STAN, dan seperti tes-tes sebelumnya gw kembali gagal.

Sempet  berhenti sejenak pada suatu momen dan bertanya sama diri sendiri, "kok ga lulus-lulus ya?". Sebenarnya gw tau jawabannya. Gw ga punya persiapan yang membuat gw layak lulus. "tapi biar deh, masa iya di Unila aja ga masuk" dalam benak gw ketika udah mulai menurunkan standar harapan. Tapi belum ada kata menyerah dan tetap yakin bahwa tahun ini gw bakal jadi mahasiswa. Petualangan berlanjut dengan mendaftar UTUL UGM. Kalo ga salah gw pilih FKG dan Arsitektur. Gw juga daftar UM Undip dengan FK dan Teknik Mesin sebagai pilihannya. Hehe, ternyata universitas terbaik tidak menerima mahasiswa seperti ini. Gw mulai sering sedih, sedih banget. Setiap gw baca pengumuman gagal, ya gw nangis. Gw malu ketika bilang ke orang tua kalo gw gagal untuk ke sekian kalinya. Walau mereka selalu bilang ga masalah, gw tau ada rasa kecewa di mata mereka. Gw malu ketika ditanya temen-temen dan belum keterima dimanapun. Padahal sebagian besar temen-temen angkatan di SMA udah keterima di universitas/ sekolah tinggi masing-masing. Rasanya itu kayak jadi manusia yang ga berharga. Lulusan SMA unggulan tapi ga keterima di mana-mana.
Pengumuman UM Undip

Harapan untuk jadi mahasiswa tahun ini udah makin menipis. Kebanyakan kampus-kampus udah mulai melaksanakan ospek. Gw rajin ngeliatin share-an temen-temen baik di instagram maupun di bbm/ line. Sedih ngeliatnya. Sebenernya gw sedih ngeliat diri gw sendiri seperti orang ga berharga banget ditengah temen2 yang udah merasakan menjadi mahasiswa. Mulai ada rasa down dan malu buat ikut tes-tes lagi. Rasanya udah tau hasil yang akan keluar adalah ga lulus lagi dan lagi. Tapi tetap gw ikutin  sisa tes yang ada. Gw coba daftar UM Unila, Ujian Masuk Bersama (UMB), UM Itera. Yup, genap sudah sepuluh seleksi yang gw ikuti tahun ini. Dan dari tiga tes itu, ga ada satu pun nama gw tercantum sebagai mahasiswa  yang lulus. Sampe bosen rasanya mau nangis dengan objek ratapan yang terus berulang. Hanya bisa pasrah. Satu yang gw yakini, Allah sedang membuat suatu skenario terbaik  yang gw pun ga tau apakah masih ada skenario yang bisa ngobatin kesedihan mendalam kaya gini.
Pengumuman Ujian Masuk Bersama (UMB)

Lumayan lama waktu merenung dan menyendiri di rumah, mungkin sekitar dua minggu. Satu keputusan besar  yang gw ambil, gw mau bimbel lagi untuk setahun kedepan. Gw sadar kalo gw memang ga layak untuk lulus dengan usaha dan persiapan yang hampir ga ada. Biarlah tahun 2014 menjadi tahun pembelajaran. Setelah minta pendapat beberapa temen, gw putuskan buat bimbel di IN**N.

Dengan sedikit berat hati gw melangkah  buat daftar bimbel. Disaat yang bersamaan, temen-temen lagi asik-asiknya ngepost di ig terkait rutinitas mereka sebagai mahasiswa baru. Obrolan di grup chat pun pada rame ngepost foto-foto mereka dengan jaket almamaternya masing-masing. Gw kembali memandang diri sendiri sebagai seorang yang gagal. "Asik bgt ya mereka udah jadi mahasiswa" kurang lebih kalimat itu yang terlintas waktu gw buka grup chat dan ig. Tapi di satu sisi gw juga udah bersepakat dengan diri sendiri buat keep moving forward bagaimanapun kondisinya.

Awal September 2014 gw memulai suatu langkah besar di dalam hidup. Tebak?! Yup, ini adalah hari pertama gw bimbel. Dan ternyata dunia gw ga se-suram yg difikirkan selama ini. Masih ada orang lain yang sama-sama ga keterima. Gw bimbel ambil kelas alumni berdua sama anak smanda (SMA 2) namanya Kasih. Dia juga merupakan pejuang FK yang gagal di tahun pertama.

Satu bulan pertama, kita cuma berdua menjalani hari-hari bimbel di kelas. Gw masih dengan perasaan yang sama, merasa gagal dan mencoba mencari kegiatan lain yaitu bimbel. Hari demi hari gw laluin, ternyata anak alumni yang ikut bimbel makin bertambah. Total kelas gw jadi berisi 8 orang. Dengan seringnya kita ketemu, gw jadi mengetahui alasan mereka pada mau bimbel lagi. Ada yg memang ga keterima kaya gw, ada yg ambisi nya belum tarcapai, ada yg udah masuk jurusan yg tepat tapi ga sreg sama senioritas di kampusnya, pokoknya bermacam-macam. Perlahan fikiran gw mulai terbuka, bahwa gw ga seburuk dan se-gagal yang ada di fikiran. Benar tahun 2014 gw memang gagal masuk universitas. Tapi gw bukan seorang loser yang hanya bisa meratapi kegagalannya. Dan perlahan juga gw mulai sadar, keputusan gw sejak SNMPTN yang ga memilih jurusan untuk sekedar mencari aman itu adalah keputusan yang tepat. Karena dari  pengalaman mereka (temen-temen bimbel), menjalani sesuatu yang ga sesuai hati memang lumayan berat.

Memasuki bulan Desember, gw udah sangat biasa aja dalam menjalani bimbel. Udah ga ada lagi rasa malu ketika ketemu temen-temen atau ketika ditanya kuliah dimana. Gw dengan lantang menjawab "Kemarin ga keterima dimana-mana, tahun depan mau tes lagi. Doain ya". Kalimat itu selalu jadi jawaban gw kalo ada yg tanya. Masih di bulan yang sama, gw mulai berubah haluan untuk ga menjadikan FK sebagai pilihan gw di SBMPTN 2015. Dikelas gw bimbel, 6 dari 8 adalah orang-orang yang ingin mendaftar FK. Entah kenapa mindset gw menganggap bahwa FK bukanlah sesuatu yang menarik lagi saat  itu.

Di bimbel, gw jadi menyenangi pelajaran-pelajaran eksak seperti kimia, matematika, dan fisika. Ga bisa dipungkiri, para guru di tempat bimbel berperan besar menjadikan siswanya ini begitu menyenangi pelajaran-pelajaran tersebut. Walaupun tetep aja, gw seneng bukan berarti gw pinter di pelajaran itu. Tapi ada rasa ingin tau ketika gw ga memahami materi-materinya. Setelah diskusi dengan banyak guru dan disesuaikan dengan senengnya gw dengan pelajaran kimia dan matematika, gw memutuskan bakal milih Teknik UGM (belum tau teknik apanya).

Di bulan Desember juga gw dipertemukan dengan dua teman SMA yaitu Bina dan Mirza. Karena intensitas pertemuan kita yang hampir setiap  hari, gw, Bina, dan Mirza menjadi pasangan solid dalam hal belajar. Walaupun mereka anak IPS dan gw IPA, tapi kita selalu kompakan buat saling belajar dan mengajar di  pelajaran yang ada di IPA dan IPS (TPA, bhs.ing, bindo, matematika dasar). Cita-cita kita bertiga  udah bulat. Gw mau masuk UGM, Bina mau masuk UI, Mirza pengen masuk ITB. Kita bertiga hampir setiap hari menghabiskan waktu di tempat bimbel. Dateng jam 10 pagi, pulang jam 8 malem bahkan ketika kita ga ada jadwal sekalipun. Apa yang kita lakuin? Belajar. Kan ga ada jadwal? Kita cari guru  yang mau ngajarin, pelajaran apapun yang penting waktu kita ga kebuang sia-sia. Ternyata dengan rajin nya kami nangkring di tempat bimbel hampir setiap hari, menarik perhatian salah seorang guru bahasa inggris sekaligus pimpinan bimbel tsb cabang Lampung. Beliau bernama Mr. Parlindungan Simatupang (kami menyapa beliau Pak Parlin, tapi panggilan akrab kami kepada beliau Mr. P wkwkwk). 
Mirza-Dwi-Bina

Suatu ketika Mr. P menawarkan kepada kami untuk belajar bahasa inggris dari materi paling dasar, setiap hari setelah selesai waktu bimbel. Mungkin beliau melihat keinginan kuat kami yang setiap hari ada di tempat bimbel, tapi setiap try out nilai bahasa inggrisnya selalu hancur hahaha. Kita bertiga sama sekali ga nolak dan jadilah kami menyebut  diri kami sendiri 'pejuang' wkwk.

Sejak sekitar Januari, jadilah tempat bimbel itu menjadi  rumah kedua buat gw, Bina, dan Mirza. Hampir setiap hari kita ada di tempat bimbel dari jam 10 pagi sampe jam 11 malem. Bahkan gw lebih banyak menghabiskan waktu di tempat bimbel dibanding di rumah. Rumah hanya untuk tempat tidur malem. Kita belajar doang seharian? Enggak. Sebagian waktu kita pake belajar, sisanya kita ngobrol, bermimpi tentang cita-cita kalo udah di kampus impian, bahkan sampe ngobrol hal-hal gaje kalo udah diatas jam 9 malem bareng Mr. P. wkwkwk

Mr. P seolah jadi mentor buat kita bertiga. Pelajaran apa yang kita belum mateng, jurusan apa yang mau kita ambil, sampe pola hidup sehari-hari supaya ga sia-sia terus diajarkan Mr. P. Saking seringnya kita belajar bahasa  inggris sama beliau, kita sampe udah hafal jawaban modul bimbel hahaha

Memasuki bulan Mei, ga kerasa SBMPTN udah tinggal hitungan hari dan bimbel reguler pun udah selesai.  Gw, Bina, dan Mirza cuma bisa menyemangati satu sama lain setiap harinya. Kita bertiga yakin bahwa hasil ga akan mengkhianati proses yg udah kita laluin. Jadi apapun hasil yg kita peroleh nanti, itulah hasil yang paling layak kita terima. Oiya gw akhirnya memutuskan untuk memilih Teknik Kimia UGM, Teknik Mesin Undip, dan Teknik Perminyakan UPN Veteran Yogyakarta sebagai  pilihan di SBMPTN 2015.

Hari-H SBMPTN pun tiba, gw melangkah dengan kepala tegak. Tapi ternyata SBMPTN memang susah bgt gw rasa. Gw ga merasa ada perbedaan berarti antara SBMPTN tahun lalu dan tahun ini, keduanya sama. Sama-sama susah bgt. Tapi perbedaannya, tahun ini gw pasrah. Gw bener-bener memasrahkan nasib gw sama Allah swt. Gw ngerasa semua tenaga, fikiran, waktu, bahkan air mata udah gw kerahkan semua demi bisa lulus di kampus impian. Jadi kalo pun gw gagal lagi di tahun ini, gw ga bakal se-sedih seperti tahun lalu. Karena gw tau, gw udah melakukan semua usaha yg bisa gw lakukan. Sisanya, Allah yg berkehendak.

Berjarak sekitar 3 hari dari SBMPTN, gw mengikuti Tes UTUL UGM. Di UTUL ini gw pilih Teknik Sipil, Teknik Geologi, dan Teknik Geodesi. Hanya dunia perteknikan lah yang gw inginkan saat itu. Di UTUL inilah gw merasakan suatu keajaiban mahadahsyat menurut gw pribadi. Entah kenapa gw lancar bgt ngerjainnya. Walaupun ada juga yg susah, tapi secara umum kerjaan gw mengalir dari nomor awal hingga akhir. Bahkan gw bisa jawab 19 nomor dari 20 soal kimia! Gw pun heran ketika keluar ruangan. Apakah gw yg kelewat pede ngejawab segitu banyak nomor, atau gw emang bisa? Gw merasa ga nyangka kalo gw bisa ngerjain soal sebanyak itu dengan lancar.

Tahun ini, dua seleksi masuk universitas itu aja yg gw ikuti. Entah kenapa hati gw yakin gw bakal sampe ke UGM. Entah masuk jurusan mana, tapi setiap kali gw  memikirkan UGM, gw selalu membayangkan ada sosok gw di depan Grha Sabha Pramana.

Pengumuman SBMPTN terjadi di bulan Juli. Ga kayak tahun lalu, kali  ini gw lebih rileks menghadapi pengumuman. Seperti yg gw bilang diatas, gw udah mengerahkan semua yg gw bisa. Jadi apapun hasilnya, itu pasti yang terbaik buat gw. Pengumuman jam 5  sore, gw udah stand by di depan laptop ditemani kakak dan ibu. Jam 5 teng pengumuman udah bisa di akses, gw input nomor peserta dan captcha-nya. Enter.

"Alhamdulillah" gw bergumam dalem hati membaca pengumuman yang bertuliskan "Anda dinyatakan tidak lulus pada SBMPTN 2015". Yah, gw menarik nafas panjang dengan sedikit terdiam. Kakak dan ibu gw berusaha menguatkan gw di sebelah. Lumayan berat membaca pengumuman kegagalan dua kali berturut-turut, apalagi gw ngerasa selama ini udah berusaha sekuat yg gw bisa. Tapi kali ini gw ga nangis seperti tahun lalu. Bener-bener ga ada air mata pada saat itu. Kok bisa? Ga tau, gw cuma meyakini apa yg gw yakini dari awal aja. Gw udah berusaha sekuat yang gw bisa, jadi kalo memang gw ga lulus berarti gw memang ga layak buat lulus. Kebetulan waktu itu adalah bulan ramadhan, gw makin banyak merenung di mesjid. Mencoba berfikir kembali apa  yg salah dari diri gw? Kenapa ga satupun univ mau nerima gw? Akhirnya gw mulai mencoba untuk realistis. Gw mulai meyakini bahwa kuliah dimanapun itu ga masalah selama gw bisa ngejalanin nya dengan serius, sekalipun bukan di universitas negeri. Gw juga udah siap dengan kemungkinan jika harus mengulang lagi di tahun ke tiga. 

Berjarak satu minggu dari pengumuman SBMPTN, pengumuman UTUL keluar. Oiya, pada posisi ini Bina dan Mirza udah sama-sama lulus. Mereka berdua sama-sama masuk UI ternyata wkwk. Gw udah ga ada gairah buat ngebuka pengumuman cepet-cepet. Apalagi gw ngerasa ngerjain UTUL dengan lancar, dan SBMPTN ga lulus. Berarti lancarnya gw kemarin adalah lancar yg ga bener. Orang rumah juga ga terlalu menanti-nanti seperti kemarin. Mungkin mereka khawatir apabila gw ga lulus lagi, gw bakal mencapai fase depresi. Sehingga orang tua dan kakak gw terlihat seolah bersikap santai demi gw. Ya walaupun gw tau, mereka pun sedih ngeliat situasi sulit gw ini. Tapi mereka berhasil membuat gw tidak merasa down (terimakasih mama, papa, dan kakak) :) Gw buka pengumuman sekitar setengah jam setelah bisa di akses. Gw tetap berharap, tapi lebih banyak ke arah pasrah apapun hasilnya it's ok. Gw masukin nomor peserta dan captcha. Enter. Gw sambil bergumam "gagal lagi gagal lagi" sendiri buat nguatin diri kalo emang ga lulus.

Dan perjuangan itu akhirnya membuahkan hasil yang sepadan. "Selamat anda dinyatakan Lulus di Prodi S1 Teknik Sipil". Ya Allah, dalem hati gw bergumam. Deg-deg-deg. Gw udah  gabisa  mikir apapun dan langsung teriak "Ma!" manggil mama gw. Gw langsung lari ke mama gw  yang lagi di dapur untuk nyiapin menu buka puasa. Dan seketika gw meluk mama sambil bilang "Akhirnya lulus" :"). Gw nangis parah kayak anak kecil disitu. Hari itu gw merasakan salah satu  kenikmatan terbesar. Gw bisa mencapai apa yg orang lain fikir (bahkan gw sendiri fikir) ga bakal bisa melakukannya.
FINALLY!

Foto yang sebelumnya cuma ada di bayangan wkwk

Satu bulan menjalani hari-hari sebagai mahasiswa baru di Yogyakarta, gw udah pewe dan confidence. Lingkungannya friendly, biaya hidup terjangkau, dan banyak tempat wisatanya cuy! Apalagi di kota pelajar ini banyak temen-temen satu SMA gw, fix gw banyak main di awal-awal jadi anak Yogya.

Ternyata petualangan gw menjadi seorang mahasiswa belum selesai. Agustus awal, salah satu temen ngejarkom di grup kalo ada bukaan USM STAN. Gw kasih tau orang tua walaupun ga ada minat daftar. Tapi mereka menyarankan untuk coba aja. Gw fikir ga masalah untuk sekedar coba. Toh tahun lalu gagal, kalo tahun ini gw berhasil ada rasa bangga tersendiri aja (blm terfikir gimana kalo beneran keterima). Singkat cerita gw ga melakukan banyak persiapan karena udah sibuk sama ospek di UGM. Bahkan H-1 tes, gw masih balik jam 1 malem main bareng temen-temen dari Lampung. Tapi yang namanya jodoh memang sudah digariskan, ketika USM gw ngerasa lancar bgt kayak pas UTUL. Tahap demi tahap gw lalui, hingga gw beneran keterima! wkwkwk

Membaca pengumuman kelulusan, gw seneng dan bimbang. Gw  berharap bgt bisa dapet pendidikan di BDK (Balai Diklat Keuangan) Yogyakarta supaya bisa tetep kuliah di UGM dan lanjut STAN (double degree wkwk). Tapi ternyata gw  dapet pendidikan di Jakarta (Bintaro). Semakin bertambah bimbang untuk memilih antara impian yang udah tercapai atau impian yang tak terduga ini. Gw berada pada posisi galau, tapi ga kaya tahun lalu. Kali ini galaunya lebih enak sih karena gw harus milih dua institusi pendidikan yang menurut gw adalah terbaik dibidangnya masing-masing. Gw udah ga bisa membandingkan plus minus masing-masing, karena keduanya menurut gw adalah plus. Keduanya adalah ganjaran dari-Nya atas semua usaha, doa, dan air mata gw selama ini. Setelah meminta masukan dari keluarga, guru-guru, temen-temen, gw mendapatkan satu kesimpulan. Dimanapun tempatnya, gw bakal ngikutin apapun yang orang tua gw inginkan. Gw yakin selama ada ridho orang tua menyertai, sesulit apapun nanti prosesnya pasti bisa dihadapin. Sebenernya orang tua gw ga banyak mendiskriminasi dalam pilihan ini. Tapi dari kesempatan berdiskusi dengan mereka, gw tau bahwa mereka lebih prefer gw untuk ambil STAN. Akhirnya disinilah gw sekarang (STAN). Menjalani perkuliahan yang menantang dengan berbagai pressure-nya, namun tetap menyenangkan untuk menjadi sebuah pengalaman :)
My best choice!

Akhirnya gw merasakan sebuah quotes yang pernah gw baca "Yakinlah ada sesuatu yang menantimu selepas banyak kesabaran (yg kau jalani) yang akan membuatmu terpana hingga kau lupa betapa pedihnya rasa sakit" -Ali bin Abi Thalib

 sekian~

Rabu, 30 Mei 2018

intro

Dwi Hendika adalah seorang mahasiswa Politeknik Keuangan Negara STAN. Dia berasal dari Lampung, ujung pulau Sumatera. 
Dapat bermanfaat bagi orang lain adalah hal yang menyenangkan, semoga -sebuah cerita- ini bermanfaat. Salam!